Selasa, 30 Juni 2020

Hadis Pada Masa Sahabat Khalifah Urrasyiddin


PADA MASA SAHABAT 
(Pada Masa Khalifah Abu Bakar Shiddiq Dan Umar Bin Khattab)

A.      Kondisi Sosial dan Politik serta Pengaruhnya terhadap Hadis
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, kondisi masyarakat Islam dan khususnya yang berada di Madinah mulai kacau dan banyak terjadi permasalahan di kalangan umat Islam. Di antara permasalahan yang terjadi setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, yaitu:Pertama, Ketika pembaiatan terhadap Abu Bakar Siddiq sebagai khalifah di Tsaqifah bani Saidah yang menyebabkan terpecahan di kalangan umat Islam. Kedua, munculnya para pembangkang dan pengingkar dalam membayar zakat. Ketiga, munculnya Nabi Palsu. Keempat, banyaknya orang yang murtad.
Kemudian, setelah dibaiatnya Abu Bakar Siddiq sebagai khalifah, maka tugasnya lebih memfokuskan kepada masalah-masalah yang sedang terjadi pada saat itu, sehingga ekspansinya dalam perluasan wilayah Islam sangat sedikit sekali. Namun permasalahan yang ada pada saat itu dapat di atasi oleh Abu Bakar, bahwa Abu Bakar mengirim pasukannya dan membunuh semua orang yang melakukan pembangkangan terhadap Islam (murtad) kecuali masyarakat yang kembali ke jalan Allah dan menyatakan keimanannya yang disebut dengan perang Riddah (memerangi kaum murtad) yang dipimpin oleh Khalid bin Walid.
Setelah menyelesaikan permasalahan yang terjadi di dalam pemerintahan Islam, maka Abu Bakar sebagai khalifah mengirim pasukannya keluar Arabia. Khalid bin Walid dikirim ke Iraq dan dibawah pimpinannya ia berhasil menguasai al- Hirah. Ke Syiria dikirim ekspansi di bawah pimpinan empat orang jenderal, yaitu Abu Ubaidah, Amr bin Ash,  Yazid bin Abi Syufyan dan Syurahbil. Untuk memperkuat kekuatan pasukan tersebut, maka Abu Bakar memerintahkan Khalid bin Walid untuk membantu pasukan yang berada di syiria.[1]
Jadi, banyaknya permasalahan yang dihadapi oleh Abu Bakar pada awal pemerintahannya, maka Abu Bakar sebagai khalifah sangat sedikit sekali perhatiannya terhadap hadis Nabi Muhammad SAW. Bahkan pada masanya, Abu Bakar lebih memfokuskan kepada pengumpulan al-Qur’an atas usulan Umar bin Khattab.
Abu Bakar Siddiq menjadi khalifah hanya dua tahun dan pada tahun 634 M ia meninggal dunia, setelah itu digantikan oleh Umar bin Khattab. Pada masa Umar bin Khattab, ia lebih banyak melakukan ekspansi keluar daerah Islam dalam rangka untuk memperluas daerah Islam. Selain itu, umar juga melanjutkan pengumpulkan al-Qur’an yang telah digagas pada masa khalifah Abu Bakar Shiddiq.[2]
Dengan kesibukan Umar bin Khattab dalam melakukan ekspansi keluar daerah Islam dan mengumpulkan al-Qur’an, umar juga berniat untuk mengumpulkan hadis Rasulullah SAW. Namun gagasan tersebut diurungkan oleh umar setelah ia melakukan shalat istikharah.[3]

B.       Perhatian Abu Bakar dan Umar terhadap Hadis
Perhatian para sahabat khususnya pada masa Abu Bakar Shiddiq dan Umar bin Khattab,  mereka lebih terfokus pada usaha memelihara dan menyebarkan al-Qur’an. Hal ini terlihat dari kebijakan Abu Bakar Shiddiq yang mengumpulkan al-Qur’an atas saran dan usulan Umar bin Khattab, disebabkan Umar melihat banyaknya para penghafal al-Qur’an yang syahid pada perang Yamamah.[4]Karena pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar lebih terfokus pada pengumpulan al-Qur’an, maka periwayatan hadis belum begitu berkembang dan para sahabat pada saat itu berusaha membatasi dalam periwayatan hadis. Bahkan pada masa Umar bin Khattab, ia pernah melarang para sahabat untuk tidak meriwayatkan hadis, dan sebaliknya Umar bin Khattab menekankan para sahabat agar mengarahkan perhatian mereka untuk menyebar luaskan al-Qur’an.[5]
Sikap para khalifah (Abu Bakar dan Umar)  yang lebih memusatkan perhatian mereka terhadap al-Qur’an, tidak berarti mereka lalai dan tidak menaruh perhatiannya terhadap hadis Nabi. Mereka memegang hadis seperti halnya yang diterima dari Rasulullah SAW secara utuh ketika Nabi masih hidup. Akan tetapi dalam meriwayatkan hadis, mereka masih sangat berhati-hati dan membatasi diri mereka dalam meriwayatkan hadis. Kehati-hatian dan usaha membatasi periwayatan yang dilakukan oleh para sahabat, disebabkan karena mereka khawatir terjadi kekeliruan dalam periwayatan hadis, walaupun mereka sadari bahwa hadis itu merupakan sumber tasyri’ setelah al-Qur’an yang harus dijaga seperti al-Qur’an.[6]
Walaupun pada masa Abu Bakar dan Umar dibatasi dalam meriwayati hadis, namun pada masa itu, bukan berarti para sahabat tidak meriwayatkan hadis. Pada masa itu, ada dua cara yang dilakukan oleh para sahabat dalam meriwayatkan hadis, yaitu:
1.      Dengan lafaz asli, yaitu mereka meriwayatkan hadis menurut lafaz yang mereka terima dari Rasulullah SAW
2.      Dengan maknanya saja, yaitu mereka meriwayatkan makna hadis karena tidak hafal lafaz asli dari Rasulullah SAW.[7]
Kehati-hatian para sahabat pada masa Abu Bakar dan Umar selain khawatir keliru dalam meriwayatkan hadis, tetapi pada masa itu juga sedang banyak timbul benih-benih kekacauan dalam agama Islam, diantaranya:
1.      Banyaknya orang murtad setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW
2.      Munculnya Nabi Palsu
3.      Banyaknya umat Islam yang tidak mau membayar zakat
4.      Masuknya orang-orang munafiq yang ingin merusak dan menghancurkan agama Islam[8]
C.      Kebijakan Khalifah terhadap Pemeliharaan Hadis
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, maka banyaknya dari umat Islam yang murtad, mengingkari dalam membayar zakat, banyak orang munafiq serta munculnya nabi palsu. Dalam suasana tersebut mendorong para sahabat untuk berhati-hati dalam meriwayatkan hadis Nabi Muhammad SAW, baik dalam menerima maupun dalam menyampaikan hadis. Di antara kebijakan yang dilakukan oleh khalifah dalam memelihara hadis Nabi Muhammad SAW, yaitu:
1.      Memberikan saksi, yaitu para sahabat diminta untuk mendatangkan saksi sebagai syarat diterimanya hadis benar dari Rasulullah SAW. Hal ini dilakukan oleh Abu Bakar Siddiq pada masa pemerintahannya dan juga dilakukan oleh Umar bin Khattab ketika ia menjadi khalifah. Semua itu mereka lakukan untuk menjaga dan memelihara kemurnian dari hadis Rasulullah SAW.[9]
2.      Menyedikitkan riwayat, yaitu para sahabat dalam meriwayatkan hadis mereka hanya mengeluarkan dan menyampaikan hadis dalam batas kadar kebutuhan primer pengajaran dan tuntunan dalam pengamalan agama. Hal ini kekhawatiran  para sahabat hadis tersebut digunakan oleh orang munafiq sebagai jalan dalam membuat hadis palsu. Para sahabat berpegangan pada hadis Nabi Muhammad SAW, yaitu:
اياكم وكثرة الحديث و من قال عني فلا يقولن الا حقا
Artinya: Jauhkanlah dirimu dari banyak meriwayatkan hadis, siapa berkata atas namaku, maka janganlah dia mengatakan selain dari yang haq. (HR. Ahmad dan Hakim)

Pada masa Umar bin Khattab, ia dengan tegas menyampaikan kepada para sahabat agar mereka menyelidiki periwayatan hadis serta ia tidak membenarkan para sahabat memperbanyak meriwayatkan hadis Nabi Muhammad SAW.[10]

3.      Menapis dalam penerimaan hadis, yaitu meneliti keadaan rawi dan marwi setiap hadis. Untuk memastikan sebuah hadis yang diragukan, maka para sahabat meminta saksi atau keterangan yang bisa menimbulkan keyakinan. Contohnya ketika Abu Bakar kedatangan seorang nenek yang meminta diberi hak dari harta peninggalan cucunya. Pada saat itu Abu Bakar tidak mendapatkan dasar hukum pada al-Qur’an dan tidak menemui hadis Nabi yang menjelaskannya. Maka berdiri al-Mughirah serta menerangkan bahwa Rasulullah pernah memberikan 1/6 kepada nenek dari harta peninggalan cucunya. Mendengar hal tersebut, maka Abu Bakar bertanya kepada sahabat lainnya, apakah ada yang mendengarkan sabda Nabi tersebut. kemudian Muhammad bin Maslamah juga menjawab, bahwa ia juga mendengar sabda Nabi tentang hal tersebut dan mengakui kebenaran yang disampaikan oleh al-Mughirah. Setelah Abu Bakar mendengar hadis dari dua orang sahabat tersebut, maka barulah Abu Bakar memberikan nenek tersebut harta peninggalan dari cucunya.
4.      Melarang meriwayatkan hadis secara luas yang belum dapat dipahami oleh masyarakat umum. Contoh, seperti yang dilakukan oleh Muaz bin Jabal, bahwa ia pernah menerima hadis dari Nabi SAW, yaitu:
ما من احد يشهد ان لا ا له الا الله صدفا من قلبه الا حرمه الله على النار
Artinya: Tak seorangpun yang mengaku bahwa tak ada tuhan selain Allah, sedangkan pengakuannya itu benar dari hatinya, sehingga Allah mengharamkan baginya Api Neraka. (HR. Bukhari)

Hadis tersebut baru disampaikan oleh Muaz kepada orang lain diwaktu hari kewafatannya, untuk menghindari dirinya dari dosa karena menyembunyikan ilmu. Hal tersebut merupakan kehati-hatian para sahabat dalam meriwayatkan hadis Nabi, sehingga hadis tersebut tidak salah paham bagi orang lain dalam memahami hadis Nabi SAW.  Dan sikap kehati-hatian para sahabat tersebut untuk menjaga kemurnian hadis agar terhindar dari sisipan-sisipan yang ditambah oleh orang munafiq.[11]


















DAFTAR KEPUSTAKAAN

Ash Shiddiqiey, M. Hasbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Tt
Soetari AD, Endang. Ilmu Hadis. Bandung: Amal Bakti Press, 1997. Cet., ke-2.

Solahudin, dkk, Ulumul Hadis. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2011. Cet., ke-2.

Suparta, Munzier. Ilmu Hadis. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002. Cet., ke-3
Yatim, Badri. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006.
Zainimal. Ulumul Hadis. Padang: The Minangkabau Foundation, 2005. Cet., ke-1.



[1]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2006).,hal., 36
[2]Ibid., hal., 37
[3]Solahudin, dkk, Ulumul Hadis, (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2011), Cet., ke-2., hal., 36
[4]Munzier Suparta, Ilmu Hadis, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), Cet., ke-3., hal., 79
[5]Solahudin, dkk, Op. cit., hal., 35
[6]Munzier Suparta, Op. cit., hal., 81
[7]Solahudin, dkk,loc. cit.
[8]Endang Soetari AD, Ilmu Hadis, ( Bandung: Amal Bakti Press, 1997), Cet., ke-2., hal., 43
[9]Zainimal, Ulumul Hadis, (Padang: The Minangkabau Foundation, 2005)., Cet., ke-1., hal., 39-40
[10]M. Hasbi Ash Shiddiqiey, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, ...hal., 62
[11]Ibid., hal., 43-45

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Webinar Nasional: Urgensi Pendidikan Islam di Era Digital

 Panyabungan, 26 Juni 2025                         Kegiatan Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh CV. Metro Press Indonesia dengan bera...