Selasa, 30 Juni 2020

Syaikh Yasin Al-Fadangi


Syeikh Yasin al-Fadani
 (Seorang Ulama Terkenal Keturunan Padang)
A.      Pendahuluan
Keilmuan islam semakin berkembang seiring dengan bertambahnya perbendaharaan karya-karya para ulama. Uniknya, khazanah tersebut bukan hanya berasal dari ulama-ulama keturunan Arab saja, melainkan juga dari berbagai ulama di penjuru dunia. Begitu pula ulama Nusantara, salah satunya yakni Syeikh Muhammad Yasin Al-Fadani yang merupakan ahli sanad hadis, ilmu falak, bahasa arab dan direktur madrasah Darul Ulum ad-Diniyah, Mekah. Untuk lebih jelasnya, maka penulis akan menjelaskan dalam bentuk sebuah makalah pada mata kuliah Studi Tokoh Hadis di Indonesia yang berjudul “Syeikh Yasin al-Fadani (Seorang Ulama Terkenal Keturunan Padang)”.
B.       Pembahasan
1.      Riwayat hidup
Nama lengkapnya adalah Abu al-Faydl ‘Alam al-Din Muhammad Yasin ibn Muhammad ‘Isa al-Fadani. Ulama keturunan Padang ini lahir di Makkah, Arab Saudi, pada tanggal 17 Juni 1915/Sya’ban 1335 H.  Ayahnya merupakan ulama terkenal asal Padang, Sumatera Barat, yaitu Muhammad ‘Isa al-Fadani dan ibunya bernama Maimunah binti Abdullah Fadani.[1]
Syeikh Yasin adalah Generasi ke 36 dari Rasulullah melalui jalur keturunan dari Sultan Minangkabau bin Sunan Giri Azmatkhan Al-Husaini.Catatan Nasab ini berdasarkan Catatan KH. Ali Maksum bin KH. Maksum Azmatkhan (Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta), yang diserahkan kepada As-Syaikh Sayyid Bahruddin Azmatkhan, pada tahun 1980, yaitu:  
  1. Muhammad Rasulullah SAW
  2. Sayyidah Fatimah Azzahra/Fatimah Al Batul
  3. Sayyidina Imam Husain Asshibti/Abu Syuhada
  4. As-Sayyid Imam Ali Zaenal Abidin/Ali Al Ausath/Ali Assajad
  5. As-Sayyid Imam Muhammad Al Baqir
  6. As-Sayyid Imam Ja'far Asshadiq
  7. As-Sayyid Imam Ali Al Uraidhi
  8. As-Sayyid Imam Muhammad An-Naqib
  9. As-Sayyid Imam Isa Arrumi
  10. As-Sayyid As-Sayyid Imam Ahmad Al Muhajir
  11. As-Sayyid As-Sayyid Imam Ubaidhillah/Abdullah
  12. As-Sayyid Imam Alwi Al Mubtakir/Alwi Al Awwal (Cikal Bakal lahirnya keluarga Alawiyyin)
  13. As-Sayyid Imam Muhammad Shohibus Souma'ah
  14. As-Sayyid Imam Alwi Shohib Baitu Jubair (Alwi Atsani)
  15. As-Sayyid Imam Ali Kholi 'Qosam
  16. As-Sayyid Imam Muhammad Shohib Mirbath
  17. As-Sayyid Imam Alwi Ammil Faqih
  18. As-Sayyid Imam Abdul Malik Azmatkhan
  19. As-Sayyid Imam Abdullah Amirkhan
  20. As-Sayyid Imam Ahmad Syah Jalaluddin
  21. As-Sayyid Imam Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro
  22. As-Sayyid Ibrahim Zainuddin Akbar As-Samarqandi
  23. As-Sayyid Maulana Ishaq
  24. Sunan Giri bin Maulana Ishaq
  25. Abdurrahman/ Muhammad Syahabuddin I (Sultan Minangkabau) bin Sunan Giri
  26. Sultan Nuruddin/ Muhammad Syahabuddin II (L.1520 M) bin Abdurrahman/ Muhammad Syahabuddin I (Sultan Minangkabau)
  27. Sultan Bakilap Alam Sultan Alif 1 (Raja Bagewang) (L.1540M – W. 1580) bin Muhammad Syahabuddin II
  28. Sultan Khalifatullah Indermasyah bin Bakilap Alam Sultan Alif 1 (Raja Bagewang)
  29. Sultan Ahmadsyah bin Sultan Khalifatullah Indermasyah
  30. YDP Pagaruyung Raja Alam Indermasyah bin Sultan Ahmadsyah
  31. Sultan Khalifatullah bin YDP Pagaruyung Raja Alam Indermasyah 
  32. Sultan Tunggal Alam Bagagar / Tangkal Alam Bagagarsyah bin Sultan Khalifatullah
  33. Malenggang Alam (Rajo Naro) bin Sultan Tunggal Alam Bagagar / Tangkal Alam Bagagarsyah
  34. Syaikh Udiq al-Faddani bin Malenggang Alam (Rajo Naro)
  35. Syaikh Muhammad Isa bin Udiq al-Faddani
  36. Syaikh Yasin Al-Faddani bin Syaikh Muhammad Isa bin Udiq al-Faddani[2]
Syekh Yasin al-Fadani selain menimba ilmu dari ayahnya sendiri, beliau juga belajar kepada pamannya, Syekh Mahmud Engku Hitam al-Fadani. Selanjutnya beliau mengenyam pendidikannya di Madrasah Ash-Shaulatiyyah al-Hindiyah, Mesir pada tahun 1346 H.Namun, sekitar tahun 1353 H/1934 M, terjadi konflik yang menyangkut nasionalisme. Salah seorang guru Madrasah Shaulatiyah merobek surat kabar Melayu dan itu dianggap melecehkan martabat Melayu sehingga Syekh Yasin Al-Fadani dan beberapa pelajar Nusantara lainnya memberikan perlawanan dengan cara pindah ke Madrasah Darul Ulum, sebuah madrasah yang didirikan oleh Sayyid Muhsin bin Ali Al-Musawa dan beberapa pemuka masyarakat Nusantara yang berada di Mekah kala itu. Sekitar 120 pelajar dari Indonesia yang pindah ke Madrasah Darul Ulum akhirnya jumlahnya bertambah. Syekh Yasin Al-Fadani adalah angkatan pertama di Darul Ulum dan di sanalah beliau menamatkan pendidikannya.
Selain mengenyam pendidikan formal, ulama bermadzhab Syafi’i ini juga berguru pada ulama-ulama besar Timur Tengah. Guru-guru beliau dalam mempelajari Ilmu Hadis yang berada di haramain diantaranya:
a.        Syeikh Umar Hamdan
b.       Syeikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki,
c.        Syeikh Umar Ba Junaidmempelajari fikih madzhab syafi’i
d.      Mufti Syafi’iyyah Makkah
e.       Syeikh Sa’id bin Muhammad al-Yamani
f.       dan Syeikh Hassan al-Yamani.  

Sedangkan dalam disiplin ilmu Ushul Fiqh, beliau belajar kepada ulama-ulama terkenal pula, diantaranya:
a.       Syeikh Muhsin bin ‘Ali al-Masawi al-Palimani al-Makki (Ulama keturunan Palembang yang tinggal di Makkah)
b.       Syekh  Abdullah Muhammad Ghozi al-Makki
c.       Syekh Ibrahim bin Daud al-Ghothoni al-Makki
d.      Syekh ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki al-Makki
e.       Dan lain-lain

Setelah Syeikh Yasin didaulat sebagai pengurus Madrasah Darul Ulum dan  beliau aktif mengajar di sana serta di Masjidil Haram. Bidang yang diajarkan oleh syeikh Yasin al-Fadani adalah ilmu hadis. Setiap bulan Ramadhan beliau selalu membaca dan mengijazahkan salah satu di antara Kutub al-Sittah kepada murid-muridnya, hal itu berlangsung selama kurang lebih 15 tahun.
Semangat mengajarnya tidak surut dan pada tahun 1362 H/1943 M Syekh yang berpegang teguh pada ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ini mendirikan sebuah lembaga pendidikan, yaitu Madrasah Ibtidaiyah lil Banat yang merupakan lembaga khusus perempuan yang pertama kali didirikan di Arab Saudi.
Dengan Berdomisilinya di Mekah, itu mempermudahkan Syekh Yasin Al-Fadani bertemu dengan banyak ulama, baik yang berasal dari Mekah sendiri maupun dari berbagai penjuru dunia. Dari ulama-ulama tersebutlah beliau menggali ilmu dan mengumpulkan sanad periwayatan hadis. Sepanjang masa pendidikannya, beliau telah belajar kepada lebih dari 700 orang guru yang beliau catat dalam berbagai literaturnya. Sungguh prestasi yang luar biasa dan sangat sulit ditandingi.
Karena banyaknya jumlah sanad yang dimiliki serta keahliannya dalam periwayatan hadis, Syekh Yasin Al-Fadani dijuluki Musnid ad-Dunya atau pakar sanad sedunia. Gelar ini hanya diberikan kepada pembesar-pembesar ulama dalam bidang ilmu sanad yang memiliki keluasan periwayatan, berguru pada banyak syeikh, dan menyampaikan hadis kepada banyak orang.
Beliau juga mendapatkan banyak pujian dari para ulama atas kedalaman ilmunya. Seorang ahli hadis bernama Sayyid Abdul Aziz Al-Qumari pernah memuji dan menjuluki beliau sebagai kebanggan Ulama Haramain. Al-Habib Assayyid Segaf bin Muhammad, salah satu pendidik Syeikh Yasin bahkan menjulukinya sebagai “Sayuthiyyu Zamaanihi” atau Imam Sayuti di zamannya. Banyak ulama juga memujinya melaui syair-syair arab, tanda takzim dan kekaguman mereka terhadap beliau.
Meskipun telah menjadi orang besar, Syeikh berdarah Sumatera ini sangatlah bersahaja dan sederhana. Ia tidak segan untuk datang ke pasar dan memikul barang-barangnya sendiri, beliau juga sering menggunakan kaus oblong dan sarung.
Meskipun lahir dan tumbuh di Mekah, Syeikh Yasin al-Fadani juga sering mengunjungi Indonesia. Darah nasionalisme yang mengalir dalam jiwanya memperlihatkan kecintaannya kepada Nusantara. Salah satu jasa besarnya ialah memperkenalkan tokoh-tokoh ulama Nusantara ke dunia. Melalui pengaruh beliau, perawi-perawi Arab dan bukan Melayu mengenal istilah “Kyai” yang merupakan istilah Jawa bermakna syeikh, ustadz, atau orang alim. Juga nama-nama daerah serta tokoh-tokoh ulama Nusantara seperti Syekh Nawawi bin ‘Umar al-Bantani, Syekh ‘Abdus Samad bin ‘Abdurrahman al-Falimbani, KH. Hasyim Asy’ari dari Jombang, dan banyak lainnya.
Ada seorang tokoh Nusantara yang diberi gelar oleh Syeikh Yasin al-Fadani dengan gelar ahli hadis seperti muhaddis Surabaya yaitu Sayyid Syeikh bin Ahmad Bafaqih. Kira-kira terdapat 130 ulama Nusantara yang periwayatannya luas dan banyak memperoleh sanad. Di antara tokoh yang paling banyak sanad periwayatannya ialah Muhaddist Syeikh ‘Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani, Syekh ‘Abdus Samad bin Abdur Rahman al-Falimbani, Syekh ‘Abdul Ghani bin Subuh al-Bimawi, Syekh Mahfuz bin ‘Abdullah al-Tarmasi, Syekh ‘Abdul Hamid Kudus, Syekh Mukhtar bin ‘Atarid al-Bogori dan Sayyid Salim Jindan.
Syeikh Yasin al-Fadani wafat pada Jumat Shubuh, 28 Dzulhijjah 1410 H/ 21 Juli 1990 M di usianya yang ke 75. Beliau disholatkan seusai shalat Jumat dan dimakamkan di pekuburan al-Ma’la, Makkah.[3]

Dengan kewafatannya seluruh Dunia merasa kehilangan Sosok ulama hadist yang Mumpuni dan menjadi sumber rujukan ilmu dan  kebesaran Allah ditampakan oleh para hadirin yang hadir dalam prosesi penguburan Ulama besar tersebut. Begitu Jenazah dimasukkan ke liang lahat  bukan liang yang sempit dan lembab yang tampak tapi liang tersebut berubah menjadi lapangan yang luas membentang disertai dengan semerbak wewangian  yang harum dan menyegarkan.[4]
2.      Karya-karya
Hingga kini, nama Syekh Yasin al-Fadani masih eksis menghiasi dunia keilmuan islam meskipun beliau telah wafat puluhan tahun lalu. Karya-karyanya tidak mati ditelan zaman dan membuat namanya semakin dikenal lintas generasi.
Kitab-kitab karangannya telah mencapai lebih dari 100 judul baik yang belum maupun sudah dicetak. Pembahasannya meliputi fiqh, hadis, balaghah, tarikh, falak, sanad, dan cabang ilmu lainnya. Beberapa kitab karangan beliau adalah:
1.     Ad Durr al-Mandhud fi syarh Sunan Abi Daud
2.     Fathal-‘Allam Syarh Bulughul Maram
3.     Al-Fawaid al-Janiyah ‘Ala Qawaidhul Fiqhiyah
4.     Nail al-Ma’mul Hasyiah ‘Ala Lubb al-Ushul Fiqh
5.     Jam’u al-Jawami’
6.     Al-Fawaid al-Jamilah Syarh Kabir ‘ala Tsamarah al-Wasilah
7.     Syarh Jauhar Tsamin fi arba’in Haditsan min Ahadits Sayyidil Mursalin lil ‘Ajluny
8.     Bulghah Al Mustaq fi ilm Isytiqaq
9.     Tasnif as-Sama’i fi Mukhtashar ilm al-Wadha’
10. Hasyiah ‘ala Risalah Hajar Zadah fi Ilmi Wadha’
11. Hasyiah ‘ala al-Asybah wan Nadha-ir Furu’ Fiqh asy-Syafi’i lis Suyuthy
12. Bughyah Musytaq Syarah al-Luma’ Abi Ishaq
13. Ta’liqat ‘ala Luma ‘Abi Ishaq asy-Syirazy fi Ilmi Ushul
14. Ar-Riyadh Nadhrah Syarh Nadhm Al-Alaliy al-Muntatsirah fil Maqulat al-‘Asyrah
15. Tastnif as-Sami’ mukhtashar dil Ilm al-Wadh’i
16. Kaukab al-Anwar fi asma-in Nujum as-Samawiyah
17. Al-‘Iqdul Farid min Jawahir al-Asanid
18. Al-Irsyadat fi Asanid Kutub an-Nahwiyyah wa ash-sharfiyyah
19. Al-Ujalah fii al-Hadist al-Musalsal
20. Risalah fi al-Mantiq
21. Idha-ah an-Nur al-Lami‘ Syarh al-Kawkab as-Sathi‘
22. Bughyah al-Musytaq Syarh al-Luma‘ Abi Ishaq
23. Manhal al-Ifadah
Dan masih banyak lagi karya-karyanya terutama dalam bidang hadis. Semua tertulis dalam bahasa Arab dan kerap dijadikan kitab rujukan dalam berbagai lembaga Islam dan pondok pesantren baik di Makkah maupun Asia Tenggara.
Susunan bahasa yang tinggi dan sistematis serta isinya yang padat dan mudah difahami juga membuat karya-karya beliau dijadikan sumber referensi para ulama dan pelajar. Dan salah satu Kitab Syekh Yasin yangmenjadi materi silabus mata kuliah ushul fikih di Fakultas Syariah Al-Azhar Cairo, Mesir yang berjudul al-Fawaid al-Janiyyah.[5]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Webinar Nasional: Urgensi Pendidikan Islam di Era Digital

 Panyabungan, 26 Juni 2025                         Kegiatan Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh CV. Metro Press Indonesia dengan bera...