Syeikh Yasin al-Fadani
(Seorang Ulama Terkenal Keturunan Padang)
A.
Pendahuluan
Keilmuan islam semakin
berkembang seiring dengan bertambahnya perbendaharaan karya-karya para ulama.
Uniknya, khazanah tersebut bukan hanya berasal dari ulama-ulama keturunan Arab
saja, melainkan juga dari berbagai ulama di penjuru dunia. Begitu pula ulama
Nusantara, salah satunya yakni Syeikh Muhammad Yasin Al-Fadani yang merupakan
ahli sanad hadis, ilmu falak, bahasa arab dan direktur madrasah Darul Ulum
ad-Diniyah, Mekah. Untuk lebih jelasnya, maka penulis akan menjelaskan dalam
bentuk sebuah makalah pada mata kuliah Studi Tokoh Hadis di Indonesia yang
berjudul “Syeikh Yasin al-Fadani (Seorang Ulama Terkenal Keturunan Padang)”.
B. Pembahasan
1. Riwayat hidup
Nama lengkapnya adalah
Abu al-Faydl ‘Alam al-Din Muhammad Yasin ibn Muhammad ‘Isa al-Fadani. Ulama
keturunan Padang ini lahir di Makkah, Arab Saudi, pada tanggal 17 Juni
1915/Sya’ban 1335 H. Ayahnya merupakan ulama terkenal asal Padang,
Sumatera Barat, yaitu Muhammad ‘Isa al-Fadani dan ibunya bernama Maimunah binti
Abdullah Fadani.[1]
Syeikh Yasin adalah Generasi ke 36 dari Rasulullah
melalui jalur keturunan dari Sultan Minangkabau bin Sunan Giri Azmatkhan
Al-Husaini.Catatan Nasab ini berdasarkan Catatan KH. Ali Maksum bin KH. Maksum
Azmatkhan (Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta), yang diserahkan kepada
As-Syaikh Sayyid Bahruddin Azmatkhan, pada tahun 1980, yaitu:
- Muhammad
Rasulullah SAW
- Sayyidah
Fatimah Azzahra/Fatimah Al Batul
- Sayyidina
Imam Husain Asshibti/Abu Syuhada
- As-Sayyid
Imam Ali Zaenal Abidin/Ali Al Ausath/Ali Assajad
- As-Sayyid
Imam Muhammad Al Baqir
- As-Sayyid
Imam Ja'far Asshadiq
- As-Sayyid
Imam Ali Al Uraidhi
- As-Sayyid
Imam Muhammad An-Naqib
- As-Sayyid
Imam Isa Arrumi
- As-Sayyid
As-Sayyid Imam Ahmad Al Muhajir
- As-Sayyid
As-Sayyid Imam Ubaidhillah/Abdullah
- As-Sayyid
Imam Alwi Al Mubtakir/Alwi Al Awwal (Cikal Bakal lahirnya keluarga
Alawiyyin)
- As-Sayyid
Imam Muhammad Shohibus Souma'ah
- As-Sayyid
Imam Alwi Shohib Baitu Jubair (Alwi Atsani)
- As-Sayyid
Imam Ali Kholi 'Qosam
- As-Sayyid
Imam Muhammad Shohib Mirbath
- As-Sayyid
Imam Alwi Ammil Faqih
- As-Sayyid
Imam Abdul Malik Azmatkhan
- As-Sayyid
Imam Abdullah Amirkhan
- As-Sayyid
Imam Ahmad Syah Jalaluddin
- As-Sayyid
Imam Husein Jamaluddin Jumadhil Kubro
- As-Sayyid
Ibrahim Zainuddin Akbar As-Samarqandi
- As-Sayyid
Maulana Ishaq
- Sunan
Giri bin Maulana Ishaq
- Abdurrahman/
Muhammad Syahabuddin I (Sultan Minangkabau) bin Sunan Giri
- Sultan
Nuruddin/ Muhammad Syahabuddin II (L.1520 M) bin Abdurrahman/ Muhammad
Syahabuddin I (Sultan Minangkabau)
- Sultan
Bakilap Alam Sultan Alif 1 (Raja Bagewang) (L.1540M – W. 1580) bin
Muhammad Syahabuddin II
- Sultan
Khalifatullah Indermasyah bin Bakilap Alam Sultan Alif 1 (Raja Bagewang)
- Sultan
Ahmadsyah bin Sultan Khalifatullah Indermasyah
- YDP
Pagaruyung Raja Alam Indermasyah bin Sultan Ahmadsyah
- Sultan
Khalifatullah bin YDP Pagaruyung Raja Alam Indermasyah
- Sultan
Tunggal Alam Bagagar / Tangkal Alam Bagagarsyah bin Sultan Khalifatullah
- Malenggang
Alam (Rajo Naro) bin Sultan Tunggal Alam Bagagar / Tangkal Alam
Bagagarsyah
- Syaikh
Udiq al-Faddani bin Malenggang Alam (Rajo Naro)
- Syaikh
Muhammad Isa bin Udiq al-Faddani
- Syaikh
Yasin Al-Faddani bin Syaikh Muhammad Isa bin Udiq al-Faddani[2]
Syekh Yasin al-Fadani
selain menimba ilmu dari ayahnya sendiri, beliau juga belajar kepada pamannya,
Syekh Mahmud Engku Hitam al-Fadani. Selanjutnya beliau mengenyam pendidikannya
di Madrasah Ash-Shaulatiyyah al-Hindiyah, Mesir pada tahun 1346 H.Namun,
sekitar tahun 1353 H/1934 M, terjadi konflik yang menyangkut nasionalisme. Salah
seorang guru Madrasah Shaulatiyah merobek surat kabar Melayu dan itu dianggap
melecehkan martabat Melayu sehingga Syekh Yasin Al-Fadani dan beberapa pelajar
Nusantara lainnya memberikan perlawanan dengan cara pindah ke Madrasah Darul
Ulum, sebuah madrasah yang didirikan oleh Sayyid Muhsin bin Ali Al-Musawa dan
beberapa pemuka masyarakat Nusantara yang berada di Mekah kala itu. Sekitar 120
pelajar dari Indonesia yang pindah ke Madrasah Darul Ulum akhirnya jumlahnya
bertambah. Syekh Yasin Al-Fadani adalah angkatan pertama di Darul Ulum dan di
sanalah beliau menamatkan pendidikannya.
Selain mengenyam pendidikan formal, ulama bermadzhab Syafi’i ini juga
berguru pada ulama-ulama besar Timur Tengah. Guru-guru beliau dalam mempelajari
Ilmu Hadis yang berada di haramain diantaranya:
a.
Syeikh Umar Hamdan
b.
Syeikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki,
c.
Syeikh Umar Ba Junaidmempelajari fikih madzhab
syafi’i
d.
Mufti Syafi’iyyah Makkah
e.
Syeikh Sa’id bin Muhammad al-Yamani
f.
dan Syeikh Hassan al-Yamani.
Sedangkan dalam disiplin ilmu Ushul Fiqh, beliau belajar kepada ulama-ulama
terkenal pula, diantaranya:
a.
Syeikh Muhsin bin ‘Ali al-Masawi
al-Palimani al-Makki (Ulama keturunan Palembang yang tinggal di Makkah)
b.
Syekh Abdullah Muhammad Ghozi al-Makki
c.
Syekh Ibrahim bin Daud al-Ghothoni
al-Makki
d.
Syekh ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki
al-Makki
e.
Dan lain-lain
Setelah Syeikh Yasin didaulat sebagai pengurus Madrasah Darul Ulum dan beliau aktif mengajar di sana serta di
Masjidil Haram. Bidang yang diajarkan oleh syeikh Yasin al-Fadani adalah ilmu
hadis. Setiap bulan Ramadhan beliau selalu membaca dan mengijazahkan salah satu
di antara Kutub al-Sittah kepada
murid-muridnya, hal itu berlangsung selama kurang lebih 15 tahun.
Semangat mengajarnya tidak surut dan pada tahun 1362 H/1943 M Syekh yang
berpegang teguh pada ajaran Ahlus Sunnah Wal Jama’ah ini
mendirikan sebuah lembaga pendidikan, yaitu Madrasah Ibtidaiyah lil Banat yang merupakan lembaga khusus
perempuan yang pertama kali didirikan di Arab Saudi.
Dengan Berdomisilinya di
Mekah, itu mempermudahkan Syekh Yasin Al-Fadani bertemu dengan banyak ulama,
baik yang berasal dari Mekah sendiri maupun dari berbagai penjuru dunia. Dari
ulama-ulama tersebutlah beliau menggali ilmu dan mengumpulkan sanad periwayatan
hadis. Sepanjang masa pendidikannya, beliau telah belajar kepada lebih dari 700
orang guru yang beliau catat dalam berbagai literaturnya. Sungguh prestasi yang
luar biasa dan sangat sulit ditandingi.
Karena banyaknya jumlah sanad yang dimiliki serta keahliannya dalam periwayatan
hadis, Syekh Yasin Al-Fadani dijuluki Musnid ad-Dunya atau
pakar sanad sedunia. Gelar ini hanya diberikan kepada pembesar-pembesar ulama
dalam bidang ilmu sanad yang memiliki keluasan periwayatan, berguru pada banyak
syeikh, dan menyampaikan hadis kepada banyak orang.
Beliau juga mendapatkan banyak pujian dari para ulama atas kedalaman
ilmunya. Seorang ahli hadis bernama Sayyid Abdul Aziz Al-Qumari pernah memuji
dan menjuluki beliau sebagai kebanggan Ulama Haramain. Al-Habib
Assayyid Segaf bin Muhammad, salah satu pendidik Syeikh Yasin bahkan
menjulukinya sebagai “Sayuthiyyu Zamaanihi” atau
Imam Sayuti di zamannya. Banyak ulama juga memujinya melaui syair-syair arab,
tanda takzim dan kekaguman mereka terhadap beliau.
Meskipun telah menjadi
orang besar, Syeikh berdarah Sumatera ini sangatlah bersahaja dan sederhana. Ia
tidak segan untuk datang ke pasar dan memikul barang-barangnya sendiri, beliau
juga sering menggunakan kaus oblong dan sarung.
Meskipun lahir dan
tumbuh di Mekah, Syeikh Yasin al-Fadani juga sering mengunjungi Indonesia.
Darah nasionalisme yang mengalir dalam jiwanya memperlihatkan kecintaannya
kepada Nusantara. Salah satu jasa besarnya ialah memperkenalkan tokoh-tokoh
ulama Nusantara ke dunia. Melalui pengaruh beliau, perawi-perawi Arab dan bukan
Melayu mengenal istilah “Kyai” yang merupakan istilah Jawa bermakna syeikh,
ustadz, atau orang alim. Juga nama-nama daerah serta tokoh-tokoh ulama
Nusantara seperti Syekh Nawawi bin ‘Umar al-Bantani, Syekh ‘Abdus Samad bin
‘Abdurrahman al-Falimbani, KH. Hasyim Asy’ari dari Jombang, dan banyak lainnya.
Ada seorang tokoh
Nusantara yang diberi gelar oleh Syeikh Yasin al-Fadani dengan gelar ahli hadis
seperti muhaddis Surabaya yaitu Sayyid Syeikh bin Ahmad Bafaqih. Kira-kira
terdapat 130 ulama Nusantara yang periwayatannya luas dan banyak memperoleh
sanad. Di antara tokoh yang paling banyak sanad periwayatannya ialah Muhaddist
Syeikh ‘Aqib bin Hasanuddin al-Falimbani, Syekh ‘Abdus Samad bin Abdur Rahman
al-Falimbani, Syekh ‘Abdul Ghani bin Subuh al-Bimawi, Syekh Mahfuz bin
‘Abdullah al-Tarmasi, Syekh ‘Abdul Hamid Kudus, Syekh Mukhtar bin ‘Atarid
al-Bogori dan Sayyid Salim Jindan.
Syeikh Yasin al-Fadani wafat pada Jumat Shubuh, 28 Dzulhijjah 1410 H/ 21
Juli 1990 M di usianya yang ke 75. Beliau disholatkan seusai shalat Jumat dan
dimakamkan di pekuburan al-Ma’la, Makkah.[3]
Dengan kewafatannya seluruh Dunia
merasa kehilangan Sosok ulama hadist yang Mumpuni dan menjadi sumber rujukan
ilmu dan kebesaran Allah ditampakan oleh para
hadirin yang hadir dalam prosesi penguburan Ulama besar tersebut. Begitu
Jenazah dimasukkan ke liang lahat bukan liang yang sempit dan lembab yang
tampak tapi liang tersebut berubah menjadi lapangan yang luas membentang disertai
dengan semerbak wewangian yang harum dan menyegarkan.[4]
2. Karya-karya
Hingga kini, nama
Syekh Yasin al-Fadani masih eksis menghiasi dunia keilmuan islam meskipun
beliau telah wafat puluhan tahun lalu. Karya-karyanya tidak mati ditelan zaman dan
membuat namanya semakin dikenal lintas generasi.
Kitab-kitab
karangannya telah mencapai lebih dari 100 judul baik yang belum maupun sudah
dicetak. Pembahasannya meliputi fiqh, hadis, balaghah, tarikh, falak, sanad,
dan cabang ilmu lainnya. Beberapa kitab karangan beliau adalah:
1.
Ad Durr
al-Mandhud fi syarh Sunan Abi Daud
2.
Fathal-‘Allam
Syarh Bulughul Maram
3.
Al-Fawaid al-Janiyah
‘Ala Qawaidhul Fiqhiyah
4.
Nail al-Ma’mul Hasyiah
‘Ala Lubb al-Ushul Fiqh
5.
Jam’u al-Jawami’
6.
Al-Fawaid al-Jamilah
Syarh Kabir ‘ala Tsamarah al-Wasilah
7.
Syarh
Jauhar Tsamin fi arba’in Haditsan min Ahadits Sayyidil Mursalin lil ‘Ajluny
8.
Bulghah Al Mustaq fi
ilm Isytiqaq
9.
Tasnif as-Sama’i fi
Mukhtashar ilm al-Wadha’
10. Hasyiah ‘ala Risalah Hajar Zadah fi Ilmi Wadha’
11. Hasyiah ‘ala al-Asybah wan Nadha-ir Furu’ Fiqh asy-Syafi’i
lis Suyuthy
12. Bughyah Musytaq Syarah al-Luma’ Abi Ishaq
13. Ta’liqat ‘ala Luma ‘Abi Ishaq asy-Syirazy fi Ilmi
Ushul
14. Ar-Riyadh Nadhrah Syarh Nadhm Al-Alaliy al-Muntatsirah
fil Maqulat al-‘Asyrah
15. Tastnif as-Sami’ mukhtashar dil Ilm al-Wadh’i
16. Kaukab al-Anwar fi asma-in Nujum as-Samawiyah
17. Al-‘Iqdul Farid min Jawahir al-Asanid
18. Al-Irsyadat fi Asanid Kutub an-Nahwiyyah wa
ash-sharfiyyah
19. Al-Ujalah fii al-Hadist al-Musalsal
20. Risalah fi al-Mantiq
21. Idha-ah an-Nur al-Lami‘ Syarh al-Kawkab as-Sathi‘
22. Bughyah al-Musytaq Syarh al-Luma‘ Abi Ishaq
23. Manhal al-Ifadah
Dan masih banyak lagi
karya-karyanya terutama dalam bidang hadis. Semua tertulis dalam bahasa Arab
dan kerap dijadikan kitab rujukan dalam berbagai lembaga Islam dan pondok
pesantren baik di Makkah maupun Asia Tenggara.
Susunan bahasa yang tinggi dan sistematis serta isinya yang padat dan mudah
difahami juga membuat karya-karya beliau dijadikan sumber referensi para ulama
dan pelajar. Dan salah satu Kitab Syekh Yasin yangmenjadi materi silabus mata
kuliah ushul fikih di Fakultas Syariah Al-Azhar Cairo, Mesir yang
berjudul al-Fawaid al-Janiyyah.[5]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar